Edukasi di Indonesia

Sekilas mengenai Indonesia

Indonesia memiliki populasi sekitar 253 juta orang yang terus berkembang. Negara nomer 4 di dunia yang terbanyak jumlah penduduknya, tersebar di 17.000 pulau yang terentang sepanjang 5.000km. Dengan tingkat pendapatan per kapita yang meningkat sebanyak 5,5% di tahun 2015, Indonesia tidak diragukan lagi merupakan negara yang berpeluang, dimana Indonesia merupakan negara dengan tingkat ekonomi nomer 16 terbesar di dunia (World Bank, 2013), Indonesia juga merupakan salah satu negara anggota G-20. Indonesia dapat menjadi negara dengan pertumbukan ekonomi nomer 7 terbesar di durnia pada tahun 2030, dimotori oleh banyaknya industri besar seperti agrikultur, konstruksi, minyak, tambang, pabrik, dan pariwisata (McKinsey, 2012).

Lebih dari 87% penduduk Indonesia merupakan pengikut ajaran Islam, hal ini membuat Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Bahasa resmi yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, namun terdapat lebih dari 700 bahasa daerah yang digunakan di antara 300 suku yang menempati Indonesia. Bahasa Inggris merupakan Bahasa asing dominan, dan 93% jumlah masyarakat dapat membaca dan menulis di tahun 2015. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, populasi negara akan berkembang lebih dari 50juta pada tahun 2015 hingga 2035, yang mana hal ini membuat populasi Indonesia bertambah menjadi 306,5 juta. Jumlah perkembangan tersbut membuat Indonesia dan para pemilik modal memiliki peluang dan juga tantangan besar terhadap perkembangan sumber daya manusia. Indonesia juga mengalami masalah infrastruktural karena arus urbanisasi yang meningkat (sebanyak 53%).

Jumlah Forecast Penduduk

Education in Indonesia

Menurut Mckinsey, di tahun 2012, Indonesia memiliki 55juta tenaga ahli, sementara di tahun 2030 diperlukan tambahan 58 juta tenaga ahli (113 juta). Di tahun 2013, The Boston Consulting Group (BCG) mengilustrasikan kekurangan tenaga ahli di Indonesia, hal ini dikarenakan oleh jumlah teknis yang tidak sejalan dengan jumlah lulusan insinyur baru yang mencapai 30.000 sementara Indonesia membutuhkan 50.000 insinyur tiap tahunnya. Untuk membangun sumber daya manusia Indonesia, pemerintah telah menyediakan berbagai program beasiswa seperti LPDP dan beasiswa Dikti, yang mendorong mahasiswa Indonesia untuk kuliah di luar negeri. Sekitar 90 juta tambahan masayarakat Indonesia diharapkan untuk bergabung dengan global consuming class di tahun 2030. Pertumbuhan kelas konsumen di Indonesia merupakan yang paling tinggi di dunia, terlepas dari Cina dan India. Tingginya ‘ledakan kaum muda’ dan perkembangan populasi membuat berkembangnya peluang bagi tenaga ahli dan peluang bagi pendidik asing.

Struktur Edukasi

Pendidikan dasar di Indonesia diawasi oleh 2 kementerian. Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah dan Kebudayaan mengawasi seluruh sekolah swasta maupun publik, sementara Kementerian Agama mengawasi seluruh sekolah Islam; tak terkecuali publik atau swasta. Anak-anak Indonesia diwajibkan untuk menempuh pendidikan selama 9 tahun, yang terdiri dari 6 tahun di Sekolah Dasar, dan 3 tahun di Sekolah Menengah Pertama. Setelah itu siswa dapat menempuh 3 tahun Sekolah Menengah Atas yang menjadi kewajiban sebelum dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Di tahun 2013 pemerintah Indonesia mengajukan rencana untuk mewajibkan sekolah selama 12 taun, yang telah diimplementasikan di Jakarta. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, dan tahun akademik dimulai dari Juli hingga Juni tiap tahunnya (World Bank, 2014).

Sehubungan dengan pembangunan pendidikan tinggi, beberapa kementerian telah melakukan pengambilan alih tanggung jawab secara birokrasi. Kementerian Agama yang mengatur institusi Islami, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengatur mayritas perguruan tinggi, sementara kementerian lain mengatur perguruan tinggi lainnya (LPDP 2015). Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa di tahun 2012, 5,6 juta pelajar menempuh pendidikan di perguruan tinggi (UNESCO). Terdapat lebih dari 3.900 jumlah perguruan tinggi di Indonesia baik publik maupun swasta, yang mana dapat dibagi menjadi 7 kategori – Universitas, Universitas Islam, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, Akadaemi dan Peguruan Diploma (Dikti, 2014). Sarjana Strata 1 (Bachelor Degree, S1) diberikan setelah menempuh 4 tahun pendidikan, sementara Sarjana Strata Dua S2 (Master Degree / S2) diterima setelah menempuh 2 tahun pendidikan, dan gelar Doktor (S3) diberikan setelah 4-4,5 tahun. Tahun akademik dimulai dari September – Mei.

Sistem Pendidikan di Indonesia

Type of Degree Indonesian Terminology Equivalent in North America/Europe
Diploma 1 (D1) Profesional ahli pratama Associate degree
Diploma 2 (D2) Profesional ahli muda Associate degree
Diploma 3 (D3) Profesional ahli madya Associate degree
Diploma 4 (D4) Sarjana sains terapan Bachelor’s degree
Sarjana 1 (S1) Sarjana Bachelor’s degree
Sarjana 2 (S2) Magister Master’s degree
Sarjana 3 (S3) Doktor Doctoral degree

Lebih dari dua per tiga mahasiswa mengenyam pendidikan di institusi swasta, yang mana diperlukan tes masuk untuk hal itu. Satu per tiga sisanya menempuh pendidikan di perguruan tinggi negara/publik yang mana di beberapa institusi tertentu diberikan subsidi dan terdapat ujian masuk yang disamakan. Biaya kuliah diterapkan di seluruh perguruan tinggi dan berbeda-beda besarnya. Beberapa universitas memiliki program bahasa Inggris, meskipun sebagian besar subjek diajarkan dalam bahasa Indonesia. Lebih lanjut, sekolah kejurusan dan diploma dijalankan secara privat dan bebas untuk menentukan kurikulum serta biaya maupun program kelas internacional (British Council, 2014). Tes masuk peguruan tinggi negeri sangatlah kompetitif, dengan 20% jumlah mahasiswa yang sukses melewatinya di tahun 2014/2015. Terdapat lebih dari 660.000 peserta untuk 86.000 bangku di 64 perguruan tinggi negeri dalam ujian SBMPTN pada tahun 2014. Bagi mereka yang gagal biasanya akan masuk ke peguruan tinggi swasta atau melanjutkan pendidikan ke luar negeri (European Indonesia Business Network, 2015).